Rabu, 04 Juni 2008

Pancasila? Yang Ada Lima Itu Ya?


Setelah 4 tahun menjadi guru kelas 1 Sekolah Dasar, saya dapat menyimpulkan lagu wajib yang menduduki peringkat tertinggi untuk dipilih murid-murid saya saat ulangan musik adalah 'Garuda Pancasila'. Entah mengapa. Mungkin karena lagu itu singkat, bersemangat, dan gampang diingat oleh anak-anak. Meskipun beberapa menyanyikannya dengan 'out of tune', saya tetap menikmati cara menyanyi dan berekspresi jiwa-jiwa muda itu. Dan sayapun terkenang oleh masa kecil saya.

Seingat saya 'Garuda Pancasila' adalah lagu penghantar sajian TVRI (Televisi Republik Indonesia) dari berita Nasional ke satu acara hiburan sekitar jam 7.30-an malam. Karena acara setelah berita biasanya acara yang menarik, saya selalu sabar menunggu lagu itu selesai dikumandangkan. Itu menjadi saat yang patut dikenang karena momen seperti itu tidak lagi ditemukan dengan ramuan acara televisi swasta yang melulu menyajikan hiburan ringan (--atau malahan pembodohon). Setelah berpuluh tahun, 'Garuda Pancasila' meninggalkan kenangan menyenangkan bagi jiwa saya yang menemukan damainya di dunia pendidikan.

Lalu setelah 1 abad Kebangkitan Nasional, tibalah Bangsa Indonesia pada tanggal 1 Juni 2008. Hari lahir Pancasila. Sang Proklamator Ir. Soekarno melabelkan 'Pancasila' untuk lima dasar yang diusulkannya pada rapat BPUPKI (Badan Persiapan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) 63 tahun lalu. Masih segar dalam ingatan saya kata-kata guru PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) semasa SMP bahwa ide lima dasar itu sudah menjadi ilham bagi Mpu Prapanca dan Mpu Tantular zaman Majapahit dulu, dalam kitab Negara Kertagama dan Sutasoma. Sejarah memang mempesona saya. Betapa seharusnya bangsa ini kaya dengan orang-orang cerdas berbudaya tinggi jika masing-masing orang memiliki akses terhadap kesempatan menuju pendidikan.

Saya sempat tersenyum kecut saat, sajian program berdurasi pendek di Metro TV hari Minggu lalu yang bertanya kepada beberapa orang tentang Pancasila. Lima dasar yang sudah ditetapkan sebagai dasar negara oleh 'Our Founding Fathers' tidak mendapatkan tempat pemahaman layak bagi sebagian orang. Dan di akhir program ada seorang ibu yang ditanyakan apakah ia tahu tentang Pancasila. Dengan malas-malasan dan enggan ia menjawab, "Pancasila? Yang ada 5 itu ya?". ------Gedubrakkkkkkk.

Pancasila :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

(Terdapat pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Alinea 4)

Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno. Sedangkan Pancasila itu sendiri merupakan dasar filosofi negara Indonesia. Kata Pancasila terdiri dari dua kata dari bahasa Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas.

Sabtu, 24 Mei 2008

My Music

Saya Terpaksa Pamit

Saya menarik nafas panjang. Sulit menerima kenyataan bahwa ekspektasi saya tidak terpenuhi -padahal saya sudah sangat menyederhanakannya. Tapi seperti kata Sheila -sahabat saya yang seorang Psikolog, sulit untuk berkomunikasi sempurna saat kesenjangan cara berpikir tercipta antara dua manusia. Saya dan beberapa rekan lainnya tidak merasa superior atau berada di level tertinggi, keinginan kami sederhana saja yaitu : membuat tempat kami bercengkrama sehari-hari di saat-saat terakhir ini bereformasi menjadi tempat yang nyaman untuk mengaktualisasikan ide dan melakukan pelayanan kami pada pendidikan. Tapi apalah daya, kami justru masuk dalam partai oposisi yang seharusnya diberangus karena tidak punya etika dalam menyampaikan inspirasi dan aspirasi. Sayapun menangisi kekalahan saya.

Adalah suatu kelegaan saat saya merasa tempat saya berkarya selama ini menunjukkan tanda-tanda perubahan. Adalah suatu kebahagiaan saat beberapa sahabat mendegungkan komitmen untuk memulai sesuatu yang baru. Adalah suatu ikatan berbentuk kebersamaan saat hari baru dimulai dengan membicarakan ide-ide segar. Tapi adalah suatu kesedihan saya yang mendalam karena ternyata itu hanyalah angan-angan saya. Sempat saya merasa sejahtera saat melihat tunas perubahan akan muncul disaat saya akan mengeksekusi keputusan saya berjalan ke tempat lain. Namun kegamangan itu seketika menghampiri ketika saya disadarkan bahwa tidak semua orang mampu dan mau berpikir positif saat berada dalam situasi terburuk. Saya kok tiba-tiba merasa diposisikan sebagai orang yang mendorong rusa yang tersangkut masuk ke dalam jurang.

Ya...proses ini akan sangat berat. Makilah saya jika saya hengkang dari semuanya ini dengan segera. Bukan karena kemauan saya, namun karena waktu tidak berpihak kepada saya. Semoga teman-teman seperjuangan saya masih memiliki peluru untuk menghadang keapatisan dan singa yang mengaumkan ketidakpercayaan. Saya pamit. Dengan hati yang belum lega, saya terpaksa pamit.

Sabtu, 17 Mei 2008

Michael and His SoulMath

Michael Samuel Honges (ada nama tengah yang kurang agaknya --Adrian mungkin) dulunya adalah murid saya. Alumni Sekolah Menengah Pertama Makarios. Kami bertemu bukan sebagai guru dan murid awalnya. Bagi saya Mike hanyalah seorang anak remaja iseng yang seharusnya bisa manja karena dia anak tunggal. Saya bergaul akrab dengan mamanya dan aneh rasanya saat pertama kali berada di dalam kelas dan menjadi fasilitatornya berbahasa Inggris. Saya lebih suka dia menyebut saya 'kakak'. Setelah 2 tahun membiarkan dia memaknai kehadiran saya sebagai guru akhirnya saya mengultimatum dia untuk menyebut saya 'kakak' kembali.

Bukan. Bukan itu yang saya ingin bahas. Bukan sejarah seorang murid, tapi kekaguman saya pada apresiasinya terhadap yang saya sebut 'pencerahan'. Saya suka menulis, dan saya selalu memotivasi murid-murid saya untuk menulis. Sayangnya saya belum bisa profesional soal itu. Akhir-akhir ini saya sering berkunjung ke blognya www.michaelsamuel.blogspot.com, hanya sekedar memantau apa yang ada di benak lulusan terbaik angkatan pertama SMP Makarios ini. Dan dia membuat saya bangga dengan tulisan-tulisannya.

Apresiasi, pencarian makna hidup, dunia kehidupan dari benaknya yang masih hijau, dan perenungannya tentang beberapa hal membuat saya merasa bahwa ia sedang bergerak ke arah pencerahan.

Dia menulis tentang seseorang. Laki-laki yang kadang membingungkan saya dengan pendekatannya yang konvensional dan urakan. Pernah saya berada dalam kelasnya. Dan sepanjang waktu dia hanya mengerutu dan mengeluh tentang kelakuan murid-murid. Apa yang dirasakan oleh anak-anak itu saat selalu menobatkannya sebagai guru favorit? Apakah karena belasan toblerone yang dibagikan gratis? (seperti yang Mike tulis di blognya) Saya tidak bisa menerima prosesnya. Tapi impresi yang diberikan sosok ini luar biasa. Saya hanya bisa menebak. Mungkin karena dedikasinya yang tinggi dibalik ungkapan-ungkapannya yang kadang memerahkan telinga. Mungkin karena baginya murid-murid adalah cerminan pencapaian pribadinya. Mungkin karena hidupnya memang digariskan hanya untuk mengalokasi waktunya menjadi bagian dari ilmu dengan deretan angka. Mungkin karena ia senantiasa menemukan cinta sejatinya pada keberhasilan peserta didiknya. Dan semuanya itu menghasilkan 'output' yang sempurna. Saya yakin ada banyak benih kesan yang sama terhadapnya di luar sana. Bahkan itu berproses pada diri Regina*.

Saya ingin mengangkat topi untuknya hari ini. Aku kutipan yang indah untuk semua muridnya. "Seorang guru sejati adalah seorang yang membangun jembatan menuju masa depan yang yang lebih baik. Membiarkan setiap murid berjalan menyebranginya. Dan pada akhirnya, dia membiarkan dirinya runtuh."

Michael, he is your SoulMath....

Note :
* Regina --teman Michael di SMP Makarios, Class of 2006.


Rabu, 23 April 2008

It's a Break Time


Saya selalu percaya bahwa hidup adalah misi. Sebelumnya saya percaya bahwa hidup adalah untuk menghasilkan karya. Dan saat saya merasa dua keyakinan itu semakin berjalan beriringan, saya menjadi kuatir karena waktu-waktu saya sepertinya semakin singkat dan terbatas untuk menjalankan misi dan menghasilkan karya.
Saya telah memutuskan untuk mengakhiri karir saya sekarang demi suatu pembaharuan. Bukan terhadap profesi tetapi terhadap situasi yang saya rasa mulai konvensional dan tidak progresif. Ada satu kutipan yang mewejangkan saya untuk tidak mengharapkan lebih pada sesuatu yang baru (meskipun saya sangat ingin begitu) dan tidak menyesali sesuatu yang telah terjadi. Saya berharap penyesalan tidak akan ada saat kita yakin kebijaksanaan Tuhan telah menuntun kita untuk melakukan sesuatu. Dan jika ada yang salah dalam suatu keputusan, saya cenderung melihatnya sebagai ajakan Tuhan untuk membuat kita lebih berserah dan mendengar suaraNya. Mudah-mudahan saja dalam dua bulan ke depan saya akan sangat berterima kasih atas situasi yang diberikan kepada saya saat ini. Meskipun saat ini helaan nafas menemani saya untuk sekedar mengingatkan bahwa waktu-waktu di depan tidak akan berjalan dengan mudah.
Saya ingin memaknai waktu ini sebagai bentuk lain halte dalam perjalanan hidup saya. Untuk sejenak menundukkan kepala dan tegak lagi dengan satu kekuatan baru.
Dua bulan di depan. Hanya dua bulan. Dan biarlah Tuhan membentangkan kanvas perjalanan saya yang lain dalam menjalankan misi dan menghasilkan karya untuk mewartakan semua tindakan luar biasaNya dalam kehidupan saya.

Jumat, 11 April 2008

The Chonicle of Keyren




Fortis Angela bermakna malaikat yang kuat. Suatu waktu di sekitar Maret 2003 saya pernah membuat puisi dengan catatan kaki bertajuk 'The Chonicle of Keyren' http://maria-justasimplethought.blogspot.com/2007/08/kepada-keyren.html bercerita tentang wanita muda (yang saya sebut kesatria). Mengapa dia istimewa? Karena ia terlahir di tanggal yang sama dengan saya, kami memilki kampung halaman yang berdekatan dan di satu ruang dan waktu kami bersama-sama. Mengapa saya terusik untuk menulis tentangnya? Karena saat ini jiwa saya mengingat kenangannya. Sudah lima tahun berselang dari masa-masa itu dan dalam ruangan-ruangan waktu di antaranya peristiwa demi peristiwa menyatukan ataupun memisahkan.

Life is full of ups and downs --kebanyakan downs-nya barangkali. Tapi simaklah! Selalu ada pintu lain yang terbuka saat satu pintu tertutup dan selalu akan ada jendela yang terbuka saat semua pintu tertutup. Kehidupan akan menjadi semakin berat karena dunia ini bergerak ke arah kebinasaan. Tapi selama pengharapan akan kekekalan di dunia yang baru menjadi visi setiap orang, yakinlah penghiburan dan pertolongan sejati akan selalu datang tepat pada waktunya.

Saya sedang ingin mengapreasiasi kembali kenangan 'The Chonicle of Keyren' dan resensi pengarang yang saya buat hari ini membuat saya ingin memiliki kasih Tuhan yang kuat dalam kelemahan saya sebagai manusia.

Karunia Pengampunan


Mengampuni itu adalah sebuah karunia. Dan diperlukan sebuah kuasa untuk mengampuni diri sendiri. Saya tidak tahu apakah adayang setuju tapi dalam subjektivitas, saya merasakan lebih sulit mengampuni diri sendiri daripada orang lain. Aneh bukan?

Trauma karena kesalahan menimbulkan kerugian yang hakiki bagi orang lain dan kesalahan yang saya ciptakan untuk memenuhi keinginan sendiri itu membuat saya menghabiskan tahun-tahun terakhir dengan rasa resah. Secara tidak sadar saya berniat menghukum diri sendiri dengan tidak memaafkan kesalahan untuk membayar setimpal perbuatan saya. Secara tidak sadar saya membangun menara kesombongan untuk menjadikan perasaan itu berhala dalam hati saya.

Sampai pada satu kali saya ditegur dengan ungkapan bahwa mengampuni itu adalah sebuah karunia. Dan diperlukan suatu kuasa untuk mengampuni diri sendiri. Betapa sombongnya saya bila saya tetap merasa bersalah saat Sang Pembebas itu telah mengampuni saya dan betapa tidak tahu malunya saya saat menyimpan baik-baik trauma rasa sakit itu di saat dengan kasih Dia memberikan hidup baru kepada saya.

Jika dulu setiap 10 April saya selalu meyesali perbuatan yang membuat salah satu sahabat terbaik saya kecewa, tahun ini saya akan mencoba mengenangnya sebagai hari dimana saya memaknai sebuah pengampunan.

Happy belated Birthday Emilliana....

Senin, 17 Maret 2008

Sedang Apatis

Ingatkah engkau dengan ritual upacara bendera di hari Senin pagi? Saat sang saka merah putih dikibarkan diiringi dengan lagu Indonesia Raya? Mungkin engkau lupa karena rutinitas itu sudah berpuluh tahun berlalu. Tapi tidak bagi saya.

Pagi ini says tergesa ke sekolah karena yakin akan terlambat. Hari ini Senin 17 Maret 2008, saya seorang guru sekarang dan upacara bendera menjadi tradisi rutin sekolah-sekolah yang menyakini upacara bendera adalah bagian pembelajaran akan nasionalisme. Saya baru menyetujui saat saya tidak lagi menjadi peserta upacara namun diwajibkan berdiri 'berpanas ria' sebagai pembina upacara.

Tapi saya terlambat. Ide nasionalisme itu menjadi garing saat saya berdiri 'behind the bars' sebagai pesakitan bersama siswa-siswa lain yang terlambat. Tapi berada diantara mereka adalah bentuk lain idealisme saya. Saya tidak bangga menjadi terlambat dan tidak sedang berunjuk rasa. Saya bisa saja menyelinap di balik pagar dan bersembunyi menyibukkan diri atau mencari alasan masuk akal mengapa saya tidak mengikuti upacara. Tapi itu malahan membuat saya menjadi kerdil. Saya merasakan berada dalam humanisme melakukan kesalahan. Bukan untuk menjunjung tinggi ungkapan 'nobody is perfect' tapi untuk memaknai betapa mengerikannya menjadi apatis. Seharusnya saya malu karena terlambat. Seorang guru yang terlambat menjadi santapan kritikan topik 'guru seharusnya menjadi teladan'. Tapi saya tidak perduli. Dan ketidakpedulian itu mengerikan.

Saya selalu percaya bahwa berproses adalah yang terutama. Mudah-mudahan saya akan segera menyelesaikan permasalahan saya mengenai apatis ini.

Doing right by not doing wrong is not doing right, isn't it?

Rabu, 06 Februari 2008

Sebelum Epilog


Setelah perenungan sekian lama, saya memutuskan untuk melepaskan pekerjaan yang saya geluti selama ini. Bukan karena bosan, namun karena pencarian saya pada hakekat menjadi guru sejati seharusnya tidak berhenti di sini.

Sekolah tempat saya mengabdi selama ini telah memberi saya kesempatan untuk menemukan cinta saya. Cinta pada Rafael Ricky Gunawan yang mengajarkan saya betapa tidak nyamannya berada dalam keterbatasan kesulitan untuk mengekang diri. Betapa saya sangat bahagia setelah empat tahun berlalu, Ricky selalu datang menikmati kebersamaan kami saat Wednesday Chapel duduk bersama-sama. Kami pernah merasakan emosi yang kuat saat kami berusaha menempatkan hubungan guru dan murid dalam keselarasan. Betapa saya mencintai keinginannya untuk terus bercerita tentang hal-hal yang terjadi dalam hidupnya.

Sekolah ini juga memperkenalkan saya pada Joseph Adrian, seorang pra-remaja dengan berjuta kejutan dalam dunianya yang unik. Saya menemuinya setiap hari, berbicara tentang dimensi lain padanya. Tentang global warming, pecahan, adverb, sinetron candy dan mentari, spiderman, dylan, pacaran, delon, dan letto serta nidji. Usianya 11 tahun, tahun ini. Dan saya sudah mulai melihat keresahannya untuk tidak terlihat bersama-sama saya didekat teman-temannya. Saya bertanggung jawab atas setiap pembelajaran dan filter terhadap tutur katanya. Dan dilain pihak saya menyerap hampir semua gaya bicaranya. Saya merasa dia adalah buku paling menarik yang pernah saya baca.

Kemudian saya bertemu dengan Richard dan Muhammad Rhein Rifky. Dua tanggung jawab yang sedang saya nikmati. Mereka bertengkar hari ini. Dua-duanya menangis. Kadang saya menyesal sudah terlalu keras pada mereka, dan terharu saat setelah pertengkaran yang hebat mereka bergandengan tangan dan saling meminta maaf. Mereka dua cinta saya yang sedang tumbuh. Saya mengasihi dua tunas muda ini.

Juga Fredrick yang lugu dan butuh waktu untuk berada dalam keteraturan. Sifat egois khas anak-anaknya membuatnya sering menarik diri terhadap pembelajaran. Tapi cinta dan kesabaran selalu menjadi rahasia untuk menumbuhkan cinta saya. Saya sedang belajar memahaminya, memahami kecenderungannya untuk menolak bantuan dan pesimis terhadap usaha. Dunia Frederick segera akan menjadi dunia saya, dan kami yakin kami akan menemukan jalan bagi kesepakatan untuk menumbuhkan minatnya mencintai belajar.

Mereka semua menjadi kenangan terindah saya. Tapi keputusan meninggalkan sekolah bukanlah akhir dari rasa cinta saya terhadap pendidikan. Keinginan terbesar saya untuk menjadi guru yang menginspirasi membuat saya terus menjaga komitmen mereka untuk terus belajar, menjadi laki-laki kuat dengan kasih yang melimpah.

Saya akan segera berkemas-kemas. Dan membawa cerita saya yang masih tidak terselesaikan bersama Jesinta dan Cynthia Dewi, dua perempuan sangat muda yang membuat saya berpikir....

Selasa, 05 Februari 2008

Misi Soeharto


Sudah agak terlambat untuk mengomentari kematian Sang Jendral besar Soeharto yang wafat 27 Januari 2008 lalu. Banjir Jakarta menjadi berita yang belum dingin saat ini. Namun entah kenapa, seperti layaknya proses perenungan yang biasa terjadi sesaat setelah sesuatu selesai, saya mulai memikirkan hakekat peristiwa itu.

Soeharto hanya seorang biasa dengan kesempatan menjadi orang yang luar biasa. Siapa saya sebenarnya untuk mengenal beliau dengan dekat, namun kok kayaknya tidak ada perasaan benci yang meluap-luap seperti yang dirasakan orang-orang pada bapak yang katanya berhasil mendapatkan predikat sebagai Bapak Pembangunan (membangun menara korupsi?) itu. Padahal saya ada di sana saat mahasiswa-mahasiswa Yogya berduyun-duyun berjalan dari kampus-kampus menuju alun-alun untuk bertemu Sultan saat zaman yang namanya reformasi itu dan seorang yang setiap malam tidur bersama saya adalah salah seorang aktivis yang ikut menyerukan supaya Soeharto 'lengser keprabon'. Mungkin karena senyumnya itu. Hm...banyak yang tidak setuju sepertinya.

Saya bukanlah pengamat politik pun pengamat sosial budaya dan masyarakat. Saya hanya seorang yang sukanya mencoba mencari tahu mengapa seseorang berbuat sesuatu. Walaupun akhirnya saya merasa banyak orang sepertinya tidak pernah berusaha cukup keras untuk mencapai kesempurnaan hakikatnya. Soeharto mungkin salah satu diantaranya.

Saat membaca imel-imel kiriman teman tentang nostalgia zaman Soeharto, semua yang berbau orde baru, tvri beserta program-programnya, klompencapir, dll, saya kok ikut-ikutan kangen ya. Masa lalu itu rasanya kok indah. Padahal saat menjalaninya tidak bahagia. Hmm..mungkin itu jawabannya orang sering hidup di masa lalu.

Waktu ada yang kasih perbandingan pemakaman Soekarno dan Soeharto yang jauh banget bedanya saya sih tidak bisa kasih komentar apa-apa. Wong, masanya berbeda. Kalau mau dikritisi ya itulah politik. Semua bisa disyahkan. Saya males kalau bicara politik.

Intinya, seperti kematian-kematian lain, kematian (wafatnya) Sang Jendral ini berarti sama. Bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Dan jika sebelumnya saya meyakini, seyakin-yakinnya, bahwa hidup itu adalah misi, saya berharap dan semoga saja Pak Harto sudah menyelesaikan misinya.

(Bapak saya juga bernama Soeharto - tulisan ini saya persembahkan untuk beliau. Papa, saya sangat mencintaimu.)

Kamis, 29 November 2007

Nilai Minus

Jika kemarin hari belajar saya, maka hari ini saya tidak lulus ujian. Entah kenapa saya memprioritaskan tuntutan saya untuk tidak berkompromi pada perbedaan hari ini. Dengan kesadaran saya tidak memberi ruang pada sikap ramah tamah dan basa basi dan memberikan peluang bagi 'devil in me' untuk mengambil peran. Saya menyesal? Mungkin nanti. Yang ada sekarang adalah perasaan kalah karena saya tidak menjadi lebih baik hari ini. Saya malu? Tentu saja. Saya merasa berdosa? Saya tidak begitu yakin dengan ini. Setidaknya saya tidak ingin mengakuinya sekarang karena sebagian diri saya 'membenarkan pembenaran diri' saya itu. Satu hal yang pasti. Saya tidak bahagia dengan tindakan yang saya ambil hari ini. Saya tidak lulus dalam ujian kesabaran dan mengatasi kemarahan yang sebenarnya saya pelajari kemarin.

Saya butuh Kuasa itu sekarang. Butuh Kekuatan itu sekarang, untuk mengubahkan kedegilan hati saya yang mungkin sudah mulai usang. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya tidak berhak merefleksikan tindakan menyenangkan orang lain dengan tindakan yang sama. Saya tidak berhak memantulkan kembali pikiran dan prilaku negatif agar kegundahan saya juga dirasakan orang lain. Hak saya adalah menerimanya sebagai bagian dari kehidupan manusia yang sudah tercemar oleh ketidaksempurnaan. Dan jika jiwa saya tidak lagi kerdil saya dapat mengubah setiap aura negatif itu menjadi batu bata yang akan terus saya kumpulkan. Untuk membangun satu rumah pada akhirnya. Bagian saya adalah terus belajar betapa kegundahan atau kekuatiran tidak akan membawa saya kemana-mana. Bahwa sesuatu yang besar itu tidak terletak dari meralat setiap masukan negatif. Bahwa kebijaksanaan itu terletak pada keteladanan yang diberikan Sang Guru Agung. Bahwa sudah seharusnyalah saya menenangkan diri dan membiarkan keping-keping puzzle terpecah itu melengkapi dirinya sendiri. Bahwa yang harus saya lakukan adalah bersyukur karena setiap saat saya diingatkan untuk menyadari betapa saya tidak berarti. Untuk itu mengapa harus merasa terusik? ;))

Selasa, 27 November 2007

Sudah Terlalu Lama...

Sudah terlalu lama saya memiliki keinginan untuk mendokumentasikan semua rasa sayang saya terhadap Joseph Adrian dalam sebuah tulisan (jika tidak terlalu berkhayal -sebuah buku). Sudah terlalu lama saya mencintai tutur bahasa yang digunakannya setiap kali pertemuan ada diantara kami. Sudah terlalu lama saya merindukan melihat ia tumbuh menjadi lelaki dengan intuisi dan kebaikan hati yang sempurna. Sudah terlalu lama saya menyesali setiap kali kemarahan tidak berarti saya membentengi alur pikirnya yang sangat berbeda dengan lazimnya anak seusianya. Sudah terlalu lama saya mengingat-ingat kenangan yang diciptakan sejak Juli 2004 saat mata bingungnya menatap keberadaan saya (yang sama bingungnya). Sudah terlalu lama saya memendam rasa cinta saya terhadap kepolosan dunia abstraknya yang luar biasa indah. Sudah terlalu lama saya menyadari bahwa seumur hidup saya akan selalu berwarna karena bertemu dengannya.

Saya Seorang Yang Bodoh

Saya sering merasa jengkel akhir-akhir, sering gampang marah, dan mudah sekali terusik oleh hal-hal sepele, terprovokasi oleh kata-kata yang tidak penting. Mungkin karena beban kerja yang lumayan berat dan waktu yang pendek untuk diclosing akhir tahun ini. Tapi tiba-tiba saya merasa rugi dengan itu semua. Pekerjaan saya tertunda dan kualitas kinerja saya menurun. Waktu dan kesempatan sering saya habiskan dengan 'curhat' untuk melampiaskan kedongkolan saya pada hal-hal yang tidak berjalan sesuai kemauan saya. Hari belajar saya tentang kemarahan ini dimulai saat Alexander murid saya kelas tiga SD mengingatkan betapa bodohnya saya memberi perhatian dan menyediakan ruang di hati untuk memberi jalan bagi resah saya pada hal-hal yang tidak bisa saya ubah. Ya...saya belajar dari seorang anak 9 tahun. Dengan polosnya ia memberikan satu ayat dalam Amsal yang harus dihafalnya karena ia bertugas membawakan renungan pagi esok harinya. Siapa saya ini yang menilai diri saya terlalu tinggi sehingga harus dihargainya? Seberapa sempurnanya saya untuk menetapkan standar bagi orang lain? Apa yang sudah saya lakukan sampai-sampai saya menuntut orang lain memberikan yang terbaik? Setulus apa motif saya sehingga saya merasa orang paling suci? Apakah saya sedemikian berharganya sehingga orang lain harus dikorbankan demi mempertahankan eksistensi saya? Who do you think you are that everyone should pay closely attention toward your feelings?

Saya seharusnya terkubur dalam rasa malu saya yang sangat karena berani bersikap emosional dan memelihara kemarahan saya.

Amsal 20 : 3 Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.

Minggu, 18 November 2007

City Life Versus Myself

Kadang saya merasa sangat sial karena tidak bisa menikmati gemerlapnya ibukota. Saya heran kenapa saya selalu tertekan saat berada di tengah gemerlapnya Jakarta. Gedung-gedung tinggi, jalan-jalan tol dan mobil serta rumah mewah menjadi hal yang menakutkan bagi saya. Belum lagi tingkat kriminalitas dan penyakit jiwa yang beragam bentuk dan kualitasnya. Saya ngeri berlama-lama di Jakarta.

Sering saya melihat diri saya berada dalam rumah di pinggir danau atau di lembah di ujung Papua. Menyentuh alam dengan hirupan nafas saya. Memenuhi ruangan imaji saya dengan bingkai alam penuh pohon dan suara burung. Kapan ya? Mudah-mudah tidak lama karena saya mulai terserang satu jenis penyakit jiwa. Tidak mau bertemu orang yang tidak saya kenal.

Potret Hari Minggu : Tidak Selesai

Saya ingin memotret hari ini. Siapa tahu bertahun-tahun kemudian saya akan membutuhkan gambarnya. Ini hari Minggu. Hari yang sama dengan hari yang lain kecuali aktivitas ke pasar nyetok logistik untuk seminggu. Pasar Kemiri itu terletak di pinggiran Kali Pesanggarahan. Entah apa yang akan terjadi dengan kali ini nantinya. Sekarang saja wajahnya tidak lebih baik dari kali-kali lain yang membelah Jakarta, keruh dan penuh sampah. Untunglah di sepanjang jalan menuju ke pasar masih terdapat pohon-pohon rindang yang setidaknya masih menyimpan sedikit udara segar saat saya melintas di bawahnya. Kios-kios mangga bermunculan seriring dengan musim yang sudah berlangsung sebulan lebih. Saat ini Mangga Harumanis dijual 4 ribu perkilo. Jika sabar bisa turun sedikit lagi. Akhir tahun menjadi masa yang menyenangkan untuk berburu buah. Kekasih saya bertugas membeli persediaan buah untuk seminggu. Urusan tawar-menawar dia lebih jago. Saya tidak pernah bisa menawar. Karena kesiangan saya tidak bisa mendapatkan tempe dan tahu yang bagus. Hal buruk bagi keluarga pemakan tumbuhan seperti kami.

Minggu, 11 November 2007

Menunggu Sang Pembebas Waktu

Seseorang yang sangat dekat dengan saya selalu wanti-wanti, "Jangan main-main dengan waktu!" Mengerikan sekali saat menyadari kita lalai memanfaatkan atau menggunakan waktu kita dengan tepat sampai penyesalan terjadi. Saat merasakan betapa saya sangat mencintai menjadi seorang guru, saya pernah menyesal mengapa pengalaman itu tidak dimulai sejak dulu (pada saat saya masih sekolah atau kuliah mungkin). Karena setelah berumah tangga dan punya anak, waktu saya terbagi-bagi antara istri, ibu, dan guru. Saya merasa ingin punya waktu lebih banyak mempelajari dunia anak-anak dan mendidik generasi dengan kepekaan spiritual. Sekarang saya sedang mencoba membuat resolusi manajemen waktu dan mengalokasikannya untuk belajar atau membaca buku-buku yang membuka wawasan saya. Jangan sampai sang waktu itu mengambil semua cita-cita saya dan memaksa saya menerima apa adanya. Jika waktu-waktu menjadi 'jahat', saya ingin Sang Pemberi Waktu itu telah membekali saya dengan pengertian yang cukup bahwa waktu seyogianya digunakan mencari kebenaranNya dan memahami kehendak Tuhan bagi hidup kita.
Putra kedua saya, Hazon El Yeshua, genap 1 tahun hari ini. Saya ingin waktu yang dianugerahkan untuk saya dapat dimaksimalkan dengan mengajarkannya (serta kakaknya) bahwa waktu-waktu didepan akan semakin berat. Untuk semua beban itu kita membutuhkan seorang Pembebas Waktu. Biarlah Tuhan dipermuliakan dengan pengertian ini.

Senin, 22 Oktober 2007

Kepedulian Nicho Kecil

Anak laki-laki kecil itu namanya Nicholas Sumargo. Kelas 1 SD Makarios. Umurnya 6 tahun. Nicho kecil punya dua adik laki-laki yang masih balita. Aku memperhatikan wajah polosnya hari ini. Dengan keharuan yang sangat melihat mata polos itu tertunduk menyangka tatapanku sebagai teguran karena ia berbicara dengan teman sebangkunya. Tidak demikian padahal. Aku memperhatikan betapa rambutnya sudah mulai panjang, dan mungkin dua minggu lagi aku harus menulis agenda ke orang tuanya untuk memintanya memotong rambut. Nicho siswa paling lamban di kelasku. Bukan..bukan..bukan karena ia tidak bisa. Tapi karena ia perfeksionis yang sosial. Pekerjaannya sering tertunda karena ia menghapus, membereskan, mengulang kembali, dan memperhatikan sekitarnya, menunda pekerjaannya hanya untuk datang kepadaku melaporkan kalau ada teman yang bicara kasar, ada teman yang bisik-bisik, ada teman yang duduknya tidak benar, atau hanya sekedar mengingatkan, "Mam, spidolnya ditutup, nanti tintanya habis."
Aku menyadari betapa Nicho kecil mengajarkankan untuk peduli.

Jumat, 03 Agustus 2007

Pertemuan Dengan Kesan (Untuk Sundari Kurniadi)

Orang biasanya tertarik dengan hal-hal baru. Namun nama Sundari Kurniadi dari milis SSCQ bukanlah nama baru. Saya sering malas membaca imel-imel grup yang kadang isinya tidak berhubungan dengan saya. (Apakah ada yang sama egoisnya dengan saya?) Dan Sundari Kurniadi sama sekali tidak ada koneksinya dengan saya, selain nama belakang Kurniadinya mengingatkan saya kepada Tante Lucy pengelola Katering Sekolah Makarios yang selalu punya senyum termanis. Tapi kesan dalam imelnya yang diposting ke milis SSCQ memberikan sesuatu yang baru. Tidak begitu baru memang, tapi kesan itu dirilis ulang dan di wrap baik sekali sehingga saya merasa menemukan sesuatu yang baru dalam jiwa saya. Betapa selama ini saya selalu mempunyai alasan untuk membenarkan kesalahan-kesalahan saya, betapa selama ini saya selalu memiliki penjelasan logis terhadap kekeliruan-kekeliruan saya, betapa keangkuhan saya untuk meminta maaf saya bungkus dalam aktualisasi diri yang berlabel 'identitas', betapa kesombongan saya dimanipulasi atas nama 'cinta', betapa bobroknya jiwa saya selama ini. Dan imel seorang Sundari Kurniadi tentang doa pastor yang punya nyali dan celetukan sederhana penuh hakikat bocah-bocah mengingatkan saya betapa saya harus kembali ke kasih saya yang mula-mula. Untuk itu semua saya merasa telah bertemu dengan kesan yang mendalam. Terima kasih Ibu Sundari Kurniadi. Terima kasih Tante Asun. Semoga sabat ini awal dari persahabatan kita. Blessed Sabbath...

Pak Nano

Dunno what to write this time. i m just thinking of someone who was not really important in my life until the day he died. Ada seorang tukang ojek tua yang setia mengantar jemput anak-anak Sekolah Makarios. Pak Nano, namanya. Aku pertama kali bertegur sapa saat tangan keriput tuanya membantu mengancingkan jaket Bella, anak kelas satu, yang akan naik ojeknya -yang juga tampak tua-. Dia hanya sekedar tukang ojek, tapi perhatian yang diberikan pada anak-anak yang dipercayakan padanya adalah layaknya seorang kakek pada cucunya. Sesekali aku ikutan nebeng naik ojeknya jika pekerjaan di sekolah tidak banyak dan aku pulang sebelum waktunya. He was just Pak Nano. Jumat lalu, aku mendengar dia meninggal. Setelah sebelumnya dia masih 'narik', kami seolah tidak percaya mendengar dia meninggal. mungkin serangan jantung. He was just still Pak Nano, si tukang ojek. Tapi aku merasa kehilangan ini sama artinya dengan kehilangan seseorang yang disayangi. mungkin karena aku terbiasa melihatnya setiap hari. terbiasa melihat senyumnya diantara mata tuanya yang sarat beban hidup. terbiasa melihat tangan tuanya yang gemetar membantu mengancingkan jaket bella dan meletakkan helm kecil dikepalanya. terbiasa mendengar suara lirihnya berkata, 'mari bu' sebelum dengan susah payah menghidupkan mesin motor bututnya. terbiasa merasakan betapa tulusnya pengabdian yang diberikan untuk memastikan anak-anak sampai di sekolah dan rumah dengan selamat. untuk semuanya itu, beliau patut dikenang.

Kamis, 02 Agustus 2007

The Good Looking Tukang Siomay

Beauty is just a skin deep, don't judge the book from its cover adalah pepatah yang mempromosikan kalau kecantikan dalam adalah yang lebih penting. Tapi apa salahnya jika memang secara fisik seseorang itu cantik atau tampan, dan saya rasa sangat tidak ada salahnya jika kita memiliki keduanya. Saya bukan pemuja kecantikan atau dalam golongan barisan sakit hati karena tidak beruntung memilki keadaan fisik yang tidak menarik karena well.. i am happy because i am is i am.
Saya hanya ingin sedikit berbicara dengan pertemuan, tepatnya perpapasan, dengan seorang tukang siomay yang genteng dalam perjalanan pulang dari Sekolah Makarios. Surprise? Tidak juga karena sebelumnya saya pernah bertemu, tukang sayur yang ayu, sopir pribadi yang berwajah rupawan, atau tukang sol sepatu yang berpenampilan bak pragawan. Saya hanya ingin sedikit merenung betapa sebetulnya semua orang berpotensi menjadi menarik. Itu sangat berhubungan dengan pernyataan bahwa Tuhan menciptakan segalanya sempurna. Dan betapa bodohnya menyesali diri karena sampai sejauh ini saya tidak bisa melakukan perubahan yang berarti dalam hidup saya. Hm...apakah itu ada hubungannya? Jauh mungkin. Seperti biasanya saya 'going too far'. Satu titik bisa menuntun saya pada pemahaman yang nyaris tidak terdeteksi koneksinya.
Intinya saya berterima kasih pada Tuhan pada hari ini karena Sang Tukang Siomay Ganteng menyadarkan saya betapa sebuah karya harus diwujudkan dalam kehidupan saya yang singkat ini.