Bicara sebuah awal adalah bicara tentang satu harapan. Dan harapan senantiasa seperti pegas yang menghantarkan kita ke tujuan. Tiga benih adalah tiga awal, tiga harapan, tiga cita-cita saya. Tiga benih yang berharap tumbuh menjadi harapan yang menghasilkan harapan-harapan baru. It is all about threeseeds.
Rabu, 12 Oktober 2011
To All Great Women On Earth
Teringatlah saya di suatu hari Minggu ketika seorang anak belia mendekati saya menawarkan alat bantu belajar berhitung untuk anak pra-sekolah dan sebuah buku catatan kecil produksi anak-anak tuna rungu. Saya terbiasa menghadapi beragam cara anak-anak sekolah berbicara namun putri kecil itu bertutur dengan bahasa yang berbeda. Jauh melampaui usianya. Dia membuka percakapan dengan menanyakan berapa umur putera saya. Menjelaskan bahwa alat bantu belajar yang dijualnya pasti sesuai dengan kebutuhan putera saya. Ia melanjutkan dengan menjelaskan cara menggunaannya mengatakan saya bukan hanya memenuhi kebutuhan putera saya namun juga membantu anak-anak tuna rungu mendapatkan penghasilan. Ia marketer handal termuda yang saya tahu. Putri kecil itu berumur 8 tahun, seorang homeschooler. Ia melayani dengan kesungguhan.
Teringatlah saya pada sudut kumuh di pinggir kali pesanggarahan dekat Pasar Kemiri. Seorang wanita paruh baya mengais sampah. Selagi macet karena jalan yang terlalu kecil untuk hilir mudik kendaraan seperti sekarang, saya memiliki kesempatan untuk memperhatikan cara kerjanya. Ia memiliki ‘sense of closure’. Ia membersihkan semua sampah dengan cermat tanpa meninggalkan sisa; memisahkan sampah kering dan basah; antara organik dan non organik. Saya tahu dengan segera bahwa aliran keruh kali yang bercengkrama di bawah kami akan berterima kasih. Ibu tukang sampah itu bukan orang biasa. Ia wanita hebat dengan integritas tinggi. Ia melayani dengan tujuan.
Teringatlah saya akan perempuan renta yang seluruh hidupnya bernama pengabdian. Ia dibesarkan oleh adat Jawa yang mengharuskannya berada di samping suami no matter what. Suaminya lak-laki keras kepala egois yang tetap menuntutnya untuk setia. Meski banyak waktu dihabiskan dengan air mata, ia bertutur bahwa bahagia baginya adalah melihat suami dan anak-anaknya berada di jalan Tuhan. Ia wanita paling hebat yang pernah saya tahu. Ia adalah ibu saya. Ia melayani dengan cinta.
Pelayanan adalah tingkatan paling luhung dari sikap dan sifat seorang pemimpin. Melayani adalah tindakan paling arif dari manusia yang mulia. Wanita bijaksana adalah wanita yang berani melepaskan atribut lainnya dan mengulurkan tangannya untuk melayani kehidupan.
Selamat Hari Ibu…
Yohanes 12 : 3 “Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.”
Jakarta, 22 Desember 2010
Rabu, 07 September 2011
Ayah Saya (Masih) Hidup
Ayah saya sudah mati. Tapi kehidupannya menghidupkan kemampuan saya untuk mencintai. Mencintai setiap tetes darah yang mengalir menjadi bagian inspirasi. Mencintai setiap wejangan yang sempat membosankan namun kemudian menjadi ide. Mencintai setiap kemunafikan yang bertransformasi menjadi bentuk pertahanan diri. Mencintai tutur kata yang akhirnya saya sadari adalah wujud dari pencariannya yang tidak selesai terhadap hakekat kehidupan. Mencintai sikap diam dan memberikan saya waktu tersendiri untuk berpikir atas kesalahan-kesalahan yang saya buat, mulai dari mengunting koran baru yang belum dibaca, menghilangkan tas kamera, mengeluarkan mobil baru belum lunas dari garasi, memberontak terhadap pilihan-pilihan terbaiknya, menyalahartikan pemahamannya akan belas kasih menjadi sebentuk benci yang tidak dimengerti, dan mempersalahkannya kekakuan yang dia ciptakan untuk melindungi kami dari rasa sakit karena kekhilafannya di masa lalu.Mencintai roh dan jiwanya yang ada dalam aliran darah saya.
Ayah saya sudah mati. Banyak yang mengutuk hari-hari dimana dia hidup mengurung diri seraya mencemooh cara orang lain menjalani hal yang dipercayai. Seperti dua alter yang berebutan menjadi dominan, dia terlihat bagai malaikat dan kenistaan dengan hunusan pedang di saat bersamaan. Dia menuliskan bahwa hari-harinya adalah jahat. Hari-hari kelabu dan abu-abu yang dihabiskannya di antara pohon-pohon karet dan suara aliran sungai di kejauhan. Hari-hari yang kemudian di sebutnya sebagai berkat, karena memperkenalkannya pada kesendirian. Rasa sepi yang mampu menjawab detil tanya saat pergantian hari datang. Membuatnya menciptakan risalah bahwa meski itu adalah sisa-sisa waktu di hidupnya, itu bukanlah akhir dari episode. Di pondok di sudut Karang Endah, dengan dengungan nyamuk dan sumur yang tersamar, ayah saya membunuh semua jumawa dan pangkat. Ia menulis, "...aku terlalu lemah...doaku tak bersuara lagi...". Saya mengira, mulai saat itu ia berbicara dengan hati. Berbicara kepada Tuhannya, juga kepada Tuhan mereka; dan mengakui keesaan Sang Pemberi hidup itu. Lalu terkenanglah saya pada ceritanya berkelana masuk pura, wihara, masjid, dan gereja untuk berlabuh pada cinta universal -cinta yang diajarkannya pada saya; meski tak banyak yang sempat melihatnya. Saya merenovasi ingatan untuk melahirkan satu konsep dalam berdoa, sebentuk doa yang selalu dimulainya dengan, "Maha besar Allah Bapa yang bertahta dalam kerajaan surga..."
Ayah saya sudah mati. Berakhir sudah napas tilas menyusuri pepohonan wangi anggrek hutan, berjalan di bawah pohon kupang berbiji merah saga, berbicara semalaman tentang kebun jeruk, bangun pagi-pagi buta untuk menyantap bubur ayam, atau duduk menghabiskan mie pangsit, martabak har, dan pempek serta kerupuk beraroma khas, atau memandang cakrawala di batas aliran sungai Musi mengenang masa kecil kami, dan pulas dalam dekapannya saat tubuh kecil kami tertidur di depan tivi yang menyala, setelah dunia dalam berita. Berakhir sudah kisah tentang pungguk yang merindukan bulan sebagai dongeng penghantar tidur. Berakhir juga impiannya mengendong surya di horizon saat perjalanan tidak bertujuan yang membawa kami untuk sekedar menikmati aspal hitam pekat di jalan-jalan berpagar kelapa sawit dan anak-anak sungai dengan latar belakang gunung di kejauhan, -dengan kicauan burung gereja dan buruk pelatuk. Jika hidup adalah petualangan, ayah saya menjadi buku petunjuk yang sangat mengasikkan. Benak saya masih mencatat petualangan kami berburu anggur hutan, buah semak karamunting, dan nanas 'tak bertuan di jalur berdebu jalan Nigata. Dan akhirnya menyisakan keharuan yang mendalam mengingat sekantung buah para untuk 'pedekan' dan pengalaman 'nakok' dari sadapan getah karet yang bau. Debu-debu yang naik membumbung di belakang mobil Datsun tua coklat susu itu menyuarakan tawa masa kecil kami dan naik ke udara untuk memeluk indah saat-saat ayah pulang membawa coklat silverqueen bertumpuk dua sambil bercerita tentang bunga sutra bombay yang menyala terang di halaman Jalan Pramuka.
Ayah saya sudah mati. Sekuat apapun keinginan saya melihatnya hidup, dia sudah mati. Rasa sakit itu masih tetap keterlaluan mencabik-cabik jiwa saya. Saya tetap ingin menjadi mutan dan berdiam. Saya sudah tidak bertanya lagi dan tidak merencanakan kebodohan membodohkan jiwa. Saya tahu tentang menunggu. Penantian yang harus saya lakoni diantara masa yang terus membiru. Waktu tanpa batas yang tidak saya kehendaki untuk segera terjadi. Waktu menunggu tulang-tulang putih itu bersatu lagi untuk bangkit bertemu dengan jiwa. Tugas belum paripurna. Karya saya belum tercipta. Cinta saya belum utuh. Pengabdian saya baru dimulai. Rencana saya nyaris tersusun. Langkah saya masih setengah menggantung. Keinginan saya sementara hanya wacana. Rindu saya belum terpuaskan. Jalan saya dirasa masih panjang. Visi saya masih buram. Target saya belum tercapai. Dan saya masih tertidur dalam keengganan. Hanya ayah saya yang mampu menghardik saya dengan kecaman dan pecutan bernama cinta. Untuk itu ayah saya (masih) harus hidup...
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Filipi 1:21
Jakarta, 8 September 2011 -- menjelang ulang tahun kekasih ayah saya, Ibu Sumarhami
Kamis, 18 Februari 2010
Berseri-seri Karena Seri
Adalah Serijati Suryanto yang tiba-tiba muncul di benak saya ketika hari-hari menjadi sejarah saya dalam sekolah di bilangan Villa Meruya. Mungkin karena reputasinya mengalahkan imej yang ia ingin berikan kepada semua orang. Entah kenapa saya seperti menemukan benang merah keberadaan saya di tempat yang baru saat berbicara dengannya. Saya seperti memiliki kewajiban untuk mengenalnya, menjadi bagian hidupnya dan mengasihinya seperti seorang sahabat karib dan saudari dalam Tuhan.
Adalah Serijati Suryanto yang tiba-tiba muncul di benak saya ketika saya belajar sesuatu tentang kerendahan hati dan pengampunan. Kami mengenalnya sebagai pribadi yang keras, -kata yang sedikit lebih lunak dibandingkan istilah ‘galak’. Saya tidak ingin menghakiminya tetapi pemahaman saya akan jalan hidupnya membuat saya seperti menemukan potret akan Seri kecil dan remaja. Kemandiriannya tertanam lebih dini dibanding kami semua membuat Seri bermetamorfosis menjadi seseorang yang independen dengan pencarian manual terhadap jati diri dan hakikat hidupnya. Disatu sisi saya merasa dia mengalami saat-saat berat menjadi yatim dan piatu saat proses pencarian akan pengenalan hidup masih dalam sangat awal, namun di sisi yang lain dengan dimensi yang lebih luas keadaan itu mentransformasi semua ketakutannya menjadi keteguhan hati dan keinginan untuk bertahan meskipun jiwanya kadang luluh lantak oleh kekecewaan. Dalam galau yang mungkin tidak sengaja diciptakan, ia memberikan tangannya untuk kesalahan atau kesalahkaprahan yang terjadi dan melupakan begitu saja dalam selaksa waktu yang sedemikan singkat tentang sakit hati. Lebih jauh lagi dalam patriotnya dia memberikan hatinya untuk kesempatan bagi setiap hal yang bergerak menuju perubahan.
Adalah Serijati Suryanto yang tiba-tiba muncul di benak saya ketika saya teringat tentang warna indah pelangi persahabatan. Dia dengan ringan memberikan waktu bagi setiap tanda kasih bagi sahabat ketika saya sibuk mencuri waktu kerja untuk kepentingan pribadi. Tanpa pamrih dan embel-embel balas jasa ia mencoba memberikan perhatian bagi keluh kesah dan juga ketidakpuasan yang kadang tercipta saat ketidakadilan menjadi bagian hidup yang tidak bisa saya tolak.
Adalah Serijati Suryanto yang tiba-tiba muncul dibenak saja untuk menjadi parameter sikap bertahan dalam kawah candradimuka yang menempa emas menjadi murni. Dia spontan, ekspresif, tanpa tedeng aling-aling, kurang memiliki filter meskipun punya visi ke depan, cekatan (dan mungkin kecepatan bicaranya lebih dibanding kecepatannya berpikir he…he..) namun diatas semuanya itu dia adalah pribadi yang mengagumkan dan memilikinya sebagai sahabat membuat saya memaknai hari-hari saya dengan nilai-nilai berharga.
Adalah Serijati Suryanto yang tiba-tiba muncul dalam benak saya saat dihadapkan pada setumpuk kewajiban yang harus di penuhi. Waktu saya semakin singkat untuk menyelesaikan tugas-tugas tapi biarkan keberadaan Seri menjadi semangat saya untuk berseri-seri.
Jakarta, 17 Pebruari 2010
Sabtu, 10 Januari 2009
Kepada Orang-orang Tercinta (3)
Perkenalkanlah pasukan pemelihara kebahagiaan saya. Mereka adalah Rhein, Richard, Ezekiel, Randhika, Patrick, Fredrick, Kristoffer, Tiwagar, Nicholas, dan Justin.
Rhein – ahli strategi, mampu merumuskan masalah, pandai membuat alasan, gampang meminta maaf, polos, kinestetis, cerdas, kadang berprasangka, pengamat yang baik, jujur, sensitif.
Richard – ahli membujuk, senang berbagi, tempramen, serba instan, mau berkorban, moody, punya keinginan kuat namun gampang menyerah, ramah, keingintahuan besar, tidak teliti, terburu-buru.
Ezekiel – ahli musik, berkelas, setia kawan, macho, berkeinginan keras, susah dibujuk namun gampang terpengaruh, pemaaf namun susah melupakan, petualang, suka pada tantangan, konsisten
Randhika – ahli pada pertahanan diri, kutu buku, cerdas, pemikir, anti sosial, kaku, mandiri.
Patrick – ahli menularkan semangat, butuh motivasi namun cepat belajar, manja namun mau berusaha.
Fredrick – ahli membujuk, penolong, suka berbagi, ramah, jujur, polos, mampu berpegang pada komitmen, mudah bergaul
Kristoffer – ahli bercerita, pemaaf, pencinta damai, gampang berkompromi.
Tiwagar – ahli berlari, tekun, pendiam, penolong, konsisten, patuh.
Nicholas – ahli mengingatkan orang, tekun, senang berbagi, rapi.
Justin – ahli mengambar, tekun, rapi, sensitif, kemauan keras, kadang iseng, semangat juang tinggi.
Kepada merekalah saya titipkan harapan saya untuk memulai pembaharuan membentuk manusia sejati. Kepada merekalah saya persembahkan kasih dan terima kasih saya yang terbesar. Kepada merekalah saya berikan kepercayaan untuk terus berproses menjadi lelaki-lelaki kecil, remaja, dan dewasa dengan kepribadian utuh dan kepedulian pada sesama. Walaupun tanpa saya ada bersama mereka.
Kepada Orang-orang Tercinta (2)

Adalah Cynthia, Fiona, Sharleen, dan Ferent. Empat malaikat sekaligus kurcaci yang saya cintai. Mereka begitu muda. Belum sewindu waktu yang mereka jalani, namun ribuan arti sudah mereka torehkan pada perjalanan menapaki hakekat kehidupan saya.
Bermula dari Cynthia. Gadis mungil bermata dan berambut indah itu mengenggam tangan saudara laki-lakinya saat pertama kali pertama kami bertemu. Celoteh riangnya selalu muncul saat kami berpapasan di koridor sekolah, di lapangan, di depan toilet, di kantin, di mana-mana. Dia ramah, menyenangkan dan mengemaskan. Lalu kami disatukan dalam hubungan guru dan murid saat Juni 2007, gadis cilik bernama Cynthia Dewi itu berada di kelas saya. Dia pemberontak dengan 101 alasan, dia berdalih untuk mendapatkan pembenaran, dia menolak setiap bentuk disiplin, dan dia akan diam tidak bergeming saat diminta melakukan sesuatu yang tidak disukai. Dia selalu meninggalkan buku-bukunya dalam laci dan selalu menemukan alas an untuk keteledorannya.
Dia potongan puzzle saya yang pertama.
Mata beningnya beradu dengan kerutan dahi saya saat kami beradu argumen. Tangan kecilnya bergerak kesana-kemari seolah ikut member penjelasan bahwa ia tidak bersalah dalam setiap pelanggaran yang ia lakukan. Dan mulut kecilnya akan mengumamkan kata-kata kekecewaan saat saya menyuruhnya menjalani hukuman.
Lalu ia akan segera bereaksi. Berjalan perlahan dan melakukan persis seperti apa yang saya minta.
Senyum saya muncul. Masalah kami sudah selesai. Detik kemudian akan mentransfer kembali keceriaanya, membawa kembali rinai-rinai keriangan yang akhirnya memenuhi rasa cinta kami berdua. Cynthia adalah reporter terbaik. Keterangannya selalu dapat dipercaya, akurat, dan jelas. Dia mampu menceritakan setiap detil kejadian saat saya lemah mengawasi anak-anak. Dia akan datang seperti kamera CCTV yang memutar kembali rekaman kejadian. Tak seorang temanpun menyanggahnya. Dia asisten saya dengan kemampuan reportase terbaik.
Cynthia tidak begitu memperhatikan angka-angka ulangannya. Baginya 8, 9, 10 atau 5 adalah sama. Yang terpenting baginya adalah berbagi kebahagiaan dengan sesama. Kesedihan baginya adalah jika sesorang yang ia kasihi berada dalam masalah. Ia menangis saat saya menangis walaupun ia tidak mengerti arti tangisan saya. Baginya setiap air mata saya adalah kekecewaan karena mereka telah melukai hati saya. Dia hanya tahu bahwa jika saya bersedih ia juga akan merasakan hal yang sama. Cynthia akan berada bersama Fredrick saat teman yang lain mengeluh. Cynthia akan mengulurkan tangannya saat Rhein merasa kata-katanya melukai perasaan. Cynthia dengan senyumnya yang jenaka berada di depan saya di suatu jam makan siang dan berkata, "Mam Maria lucu kalau bilang 'enak'". Saya akan mengenang kalimat itu selamanya.
Kemudian ada Fiona. Dia mulanya muncul sebagai keponakan sahabat saya. Namun selanjutnya ia akan menjadi satu dari murid terpandai saya. Fiona Julieta. Dia punya keanggunan dan kekikukan aristokrat. Dia muncul sebagai gadis kecil dengan kepribadian kuat. Dia mewarisi keinginan untuk selalu berusaha dari ibunya. Dia punya penalaran sempurna untuk seorang anak kecil. Kelemahannya hanya karena Fiona masih harus belajar banyak untuk menerima kekecewaan dalam hatinya. Fiona sahabat yang baik dan pemimpin yang handal. Dia mampu menjaga dan membina persahabatan. Dia gadis kecil dengan komitmen.
Sepanjang hubungan kami dia hampir tidak pernah terlibat masalah. Saya hanya mengingat saat dia berada di depan bersama empat anak laki-laki lainnya. Saya tidak meminta dia maju ke depan. Saya hanya mengemukakan kalau kami ada masalah dengan sekelompok anak yang sering bermain dan berlarian di bawah pohon bambu dekat sungai. Saya menjelaskan bahaya dari aktivitas itu dan meminta kesadaran anak-anak untu mengaku. Saya tahu dia ada bersama mereka tapi saya menunggu ia maju dengan sendirinya. Saya tidak perlu menunggu. Dengan mata yang berkaca-kaca ia maju. Lalu tangisnyapun tumpah. Sejak saat itu Fiona tidak pernah lagi bermasalah. Dia seorang yang menepati janji.
Untuk beberapa periode saya memilihnya menjadi ketua kelas dan selalu merasa puas atas kepemimpinannya. She really makes me proud.
Fiona melengkapi puzzle saya yang hilang.
Setelah itu saya bertemu dengan Sharleen Putri Chasandra. Hm…gadis kecil ini istimewa. Dia tekun, bahkan sangat tekun. Dia punya idealisme. Seringnya idealism itu mendorongnya mendapatkan pencapaian akademis yang baik, namun sesekali idealism itu membawanya dalam masalah. Dia tertutup pada awalnya. Dibutuhkan waktu lebih lama bagi Sharleen untuk berani berbicara. Dia hanya akan menatap dan melakukan tugas-tugasnya. Dia hampir selalu menyelesaikan tugas pertama kali.
Setelah sekian lama kami mulai berbicara.
Sharleen kecil selalu berusaha menjadi yang terbaik. Saya menghormati setiap perjuangan yang ia lakukan. Saya selalu menyebutnya sebagai alasan bagi teman-teman yang lain untuk berusaha lebih keras. Sharleen mampu mengatur dirinya dengan baik. Dia menjadi murid perempuan favorit bagi murid-murid laki-laki. Seringkali Rhein dan Richard datang berbisik kepada saya meminta dan membujuk agar boleh duduk bersama Sharleen. Saya sering menjadikan 'duduk bersama Sharleen' sebagai 'reward' bagi Richard dan Rhein jika mereka mampu menjadi lebih baik. Dan itu selalu berhasil.
Sharleen memang motivasi bagi sebagian murid laki-laki saya.
Sharleen menempelkan potongan lain dalam puzzle kehidupan saya.
Ferent muncul di saat-saat terakhir. Fillanta Ferent Onggo. Dia seorang penghibur. Dia datang dengan keberaniannya. Ferent menghadapi kesulitan pada mulanya. Kedatangannya di pertengahan tahun akademik membuatnya berusaha lebih keras mengejar ketinggalan. Dan dia berhasil.
Ferent bagi saya adalah cerminan kepolosan anak-anak. Suatu hari dia datang kepada saya bertanya, "Mam, mengapa ya perempuan itu selalu tertindas?" Saya kaget setengah mati dengan pertanyaan cerdas seperti itu. Mungkinkah dari seorang anak kelas 1 SD muncul pertanyaan gender dan kepedulian sosial seperti itu? Dengan pelan saya kembalikan pertanyaannya. "Mengapa Ferent bertanya seperti itu?" Kemudian dengan nada malas-malasan dia berkata, "Habis, kalau anak laki-laki punya masalah dan dihukum sama Mam Maria, kami anak perempuan jadi 'gak boleh main juga." Saya sadar seketika. Sejak saat itu hukuman satu untuk semua diharamkan bagi kelas saya.
Ferent seorang fleksibel. Dia mampu memahami alasan, tidak masalah dengan alternatif, dan tetap ceria meskipun akhirnya kami hanya menjalankan rencana kedua. Namun sikap itu menjadi masalah saat saya memintanya melakukan sesuatu. Jika ia tidak berhasil melaksanakan tugas yang saya berikan, ia akan langsung memutuskan untuk melakukan hal yang lain tanpa berkonsultasi kepada saya. Sama seperti Cynthia, Ferent senang membantu. Memiliki dua gadis kecil seperti mereka dalam kelas saya seolah membawa seluruh kebahagiaan untuk hidup saling mengasihi.
Ferent menutup puzzle saya menjadi keeping yang utuh.
Cynthia, Fiona, Sharleen, dan Ferent – terimalah rasa terima kasih saya yang tidak terhingga karena sudah menceritakan kisah bahagia untuk saya. Tetaplah menjadi malaikat-malaikat kecil yang menjaga persabahatan yang terbina antara kita –the class of 2007. Saya menikmati setiap persembahan cinta yang kalian berikan. Kado-kado kecil, surat-surat pendek, dan karya-karya lucu yang kalian berikan akan saya simpan dalam hati –selamanya.
Kepada Orang-orang Tercinta (1)
Untuk Kelas 9 (khususnya) – Christopher, Natashia, Johan, Priscilla, Winona, Erick, Tommy, Ivan, Tiffany, Angelita, Maesa, dan Cornelius
Untuk Kelas 8 – Jimmy, Michelle, Devy, Edward, Suvitti, Hizkia, Gracia, Linda, Vianny, Firly, Kevin, Joshua, Erwin, Tommy, Adam, dan Melissa
Untuk Kelas 7 – Diraj, Eka, Daniel, Hosea, Adi, Selly, Jerry, Diana, Marini, Sukraj, Stefan, Nathan, Sabrina, Ray, Aditya, Stevi, Vincent, Erick, Lydia, David, dan Amanda
Good Morning my beloved students.
Pada saat kalian membaca ini kita tidak lagi bersama sebagai guru dan murid di sekolah yang kita cintai. Tapi kalian semua adalah mutiara-mutiara saya dan sampai kapanpun akan bersedia menjadi guru dan sahabat kalian. Waktu-waktu saya bersama kalian mungkin tidak banyak tapi itu sangat cukup untuk membuat saya memutuskan bahwa kalian sangat berarti dan mengilhami saya merangkum nilai-nilai berharga dalam kehidupan.
Berada bersama kalian, mengajarkan sesuatu yang mungkin kalian anggap baru, mendengarkan celoteh dan komentar kalian (yang kadang lucu, aneh, bahkan menyebalkan), juga menyaksikan kemudaan kalian yang begitu menyenangkan serta menyaksikan 'kenakalan' khas remaja membuat saya merasa beruntung memiliki kesempatan mengenal kalian.
Maafkan saya jika saya terpaksa meninggalkan kalian seperti ini (khususnya untuk Kelas 9) karena hidup adalah pilihan. Sesuatu yang berat bagi saya saat harus tidak memilih kebersamaan bersama kalian saat ini.
Izinkan saya membingkai kenangan yang tercipta di antara kebersamaan yang pernah kita miliki.
Tuhan memberkati kalian semua. I really love you guys!!
--------------------------------------------
Christopher – terima kasih atas antusiasme, keingintahuan, kebijakan, serta rasa kasihmu pada Natashia yang membuat saya melihat keindahan dalam jiwamu. Saya tidak pernah menjumpai remaja dengan ketertarikan pada spiritualisme, kehakikian, dan filosofi seperti kamu. Sering saya berpikir kamu terlalu muda untuk semuanya itu. Namun orang-orang besar awalnya seperti ini. Jika sikap itu diterjemahkan aneh atau cenggeng bagi orang lain, saya justru melihatnya sebagai bentuk 'pertahanan diri' yang kamu tunjukkan. Kamu membuka pesan-pesan untuk teman-temanmu yang lain. Sama seperti harapan saya agar kamu membukakan pintu bagi mereka menuju pemahaman menjadi seseorang yang lebih baik.
Natashia – terima kasih atas senyum kikukmu, atas sikap agungmu melewati kerikil yang seharusnya tidak menjadi milikmu, atas usahamu untuk tetap ceria. Saya percaya suatu saat saya akan mendapati engkau sebagai wanita mulia.
Johan – terima kasih atas perhatian luar biasa dalam kepribadian yang tampak tidak peduli, masa bodoh, dan ogah-ogahan. Saya dapat melihat bahwa engkau rindu untuk mengalami proses untuk menjadikan dirimu lebih baik. Pesan saya , -hati-hati pada kharisma yang engkau miliki. Manfaatkan itu untuk sesuatu yang positif.
Priscilla – terima kasih atas usaha untuk mendapatkan hasil terbaik dalam setiap pencapaian. Cara pandangmu melihat segala sesuatu secara belumlah utuh, namun dengan sedikit usaha dan keyakinan kamu akan menjadi wanita bijak yang mampu membahagiakan orang-orang yang kamu kasihi. Saya suka melihatmu senang membantu dan berusaha menyenangkan orang lain. Sikap melayani yang ada dalam dirimu akan membawa kamu menjadi entrepreneur sejati.
Winona – terima kasih atas pembuktian yang berusaha engkau lakukan. Engkau adalah sebentuk potensi yang terbungkus dalam sikap keengganan. Sedikit komitmen, sedikit rendah hati, sedikit kepedulian akan menghantarkanmu pada kesuksesan. Jiwa mudamu masih harus mengalami banyak hal. Mulailah untuk menunjukkan sikap menghargai terhadap apapun. Kamu akan keluar sebagai pemenang.
Erick – terima kasih atas nuansa bening dalam jiwamu. Kebaikan dan semangatmu adalah kombinasi menarik bagi seorang remaja dengan senyum paling mengagumkan. Keinginanmu untuk melihat sisi baik dalam segala sesuatu diwariskan secara sempurna dari orang tuamu. Saya melihatmu tumbuh – dari anak-anak menjadi remaja, dan saya rindu untuk melihatmu menjadi lelaki dengan kepribadian kuat dan dengan kasih yang penuh. Tetaplah berusaha memberikan yang terbaik.
Tommy – terima kasih atas sikap diam yang menghanyutkan. Saya tahu engkau memiliki begitu banyak kemuliaan. Senyum dan sikapmu berbicara banyak daripada kata-kata. Saya cukup mengerti bahwa di waktu-waktu lalu ada hal-hal yang terlewatkan dan di waktu-waktu yang akan datang ada begitu banyak kesempatan. Berdoa Tommy, dan engkau akan berada di antara 'rising stars' yang menatap dunia dengan keyakinan.
Ivan – terima kasih atas usaha untuk memberikan yang terbaik. Engkau adalah bukti pencapaian saya sebagai guru. Betapa bahagianya saya saat engkau mampu memberikan nilai yang baik –bukan demi kemegahan pribadi namun demi aktualisasi diri. Jadilah dirimu sendiri dan biarkan orang lain melihatmu apa adanya. Saya bahagia saat engkau bahagia.
Tiffany – terima kasih atas konsistensi, kecerdasan, kehati-hatian, ketelitian, dan keanggunan. I can see your beautiful mind. Your curiosity will bring you the whole world. You are still so young and this complicated world will take you nowhere if you don't have faith inside. There are so many mysteries and miseries outside. May God guide you through the path of long-life journey and have a belief that everything is for His sake only. Be in the right path 'cause I am longing to see you among the beautiful angels.
Angelita – terima kasih atas kebaikan murni seorang gadis teramat cantik yang pernah saya kenal. Intuisi kepedulianmu membuat saya kagum. Kenali potensi dirimu Angelita karena saya tidak ingin melihatmu membuang-buang waktu melakukan hal-hal yang tidak kamu sukai. Saya mengasihimu Angelita dan setiap musik yang kamu mainkan akan mengingatkan saya pada kemurnian hati seorang gadis belia.
Maesa – terima kasih atas keunikan yang kamu persembahkan. Saya ingin membicarakan begitu banyak hal denganmu Maesa karena saya ingin menjadi seseorang yang bisa membantu kamu memahami indahnya memilki pengalaman yang tidak dimiliki oleh remaja-remaja lain seusia kamu. Sikapmu membuat saya memutuskan beberapa hal dalam hidup saya termasuk menambahkan satu nilai untuk 'don't judge the book from its cover'. Perjalanan masih panjang Maesa, dan laluilah itu dengan kelapangan jiwa. Saya akan berdiri mengangkat topi dan menundukkan badan saya untuk memberi penghargaan tertinggi bagi seorang wanita muda seperti kamu.
Cornelius – terima kasih atas kerja keras, kecerdasan, dan jerih payah. Kamu adalah lambang pencapaian buat saya. Namun semuanya akan lebih berharga jika kamu berdiri lebih tinggi lagi dan melihat segala sesuatu lebih dari sekedar angka-angka prestasi. Memperoleh kesempatan untuk belajar adalah kesempatan yang luar biasa dan kamu memiliki hampir semua akses menuju pembelajaran. Mulailah mencatat nilai-nilai kehidupan dan tambahkanlah predikat untuk lulus dari 'school of life'. I really enjoy your fighting spirit.
Kalian semua adalah berkat Tuhan dalam kehidupan saya.
Jumat, 26 September 2008
Nilai-nilai Saya
Joseph, 11 tahun, menghabiskan setengah hidupnya bersama-sama saya. Suatu ketika sang guru yang ingin mengembangkan sisi positif murid-murid bertanya kepada semua teman-temannya, "Siapa yang kamu kagumi?" Anak-anak lain dengan yakin mengatakan mereka mengagumi seseorang (dengan menyebutkan namanya). Joseph dengan tegas berdiri dan bertanya, "Apakah saya boleh mengagumi diri saya sendiri?" Riuh rendah kelas tercipta. Joseph tidak mengerti mengapa jawabannya terdengar asing bagi anak-anak lain.
Joseph bukan sedang sombong. Dia juga bukan sedang merasa lebih dari teman-temannya. Dia punya alasan kuat bertanya seperti itu. "Tidak ada seorangpun mengagumi saya. Jadi bolehkan saya mengagumi diri saya sendiri?" Saya nyaris menangis mendengar jawaban itu. Betapa saya ingin memberikan separuh dari pengertian saya tentang kehiduapan kepada bocah lelaki beranjak dewasa ini. Keterbatasannya memahami segala sesuatu dari kaca mata anak-anak normal membuatnya tampak 'aneh'. Saya lebih suka menyebutnya sebagai 'hal yang istimewa'. Dengan rasa terima kasih dia mendengarkan penjelasan saya bahwa saya mengaguminya. Dia seperti 'oase' bagi saya saat beban emosi sedang memuncak. Dia seperti buku humor bagi saya saat dunia saya menjadi begitu serius. Dia seperti buku cerita menarik saat saya sedang ingin berpetualang. Joseph selalu membuat saya melihat kehidupan ini dari sisi lain.
Richard Wong, 7 tahun, memiliki senyum paling manis. Saya suka melihat paduan menarik senyum dan matanya saat ia sedang senang. Richard butuh belajar mengendalikan dirinya. Dia butuh jadwal ketat yang mengajarkan tentang penurutan dan memahami keterbatasan. Richard senang berbagi dan menolong. Sikapnya yang tidak menyukai penolakan membuatnya tampak agresif pun disaat dia menawarkan bantuan. Karenanya saya menangis. Karenanya saya kehilangan akal. Karenanya saya hampir-hampir menyerah. Dan karenanya juga saya menemukan permata kepada nilai ingin diterima dan dianggap.
Richard rindu untuk diakui. Dia ingin menyatakan bahwa saya bisa jadi baik jika kamu menginginkannya. Ricard butuh stimulan. Richard butuh motivasi. Richard butuh penerimaan. Saya berharap saya masih memiliki waktu untuk memberikannya semua itu.
Muhammad Rhein Rifky, 7 tahun, memiliki kemampuan analisa yang sangat baik. Dia cerdas dan mudah menyerap semua informasi yang disuguhkan padanya. Dan keunggulan itu terkadang tertutup oleh kecenderungannya untuk tidak bisa diam. Rhein sedang pembelajar kinestetik. Ketika sang pendidik (baca : pengajar) tidak memahami ini, Rhein akan tampak seperti anak yang susah diatur. Dia selalu bergerak, selalu menemukan alasan untuk pelanggarannya, dan selalu mengomentari segala sesuatu. Jika awalnya saya merasa itu mengganggu, saya kemudian sampai pada kesimpulan bahwa itu adalah bentuk aktualisasi dirinya. Kesadaran itu membuat saya 'menikmati' waktu-waktu bersama Rhein.
Rhein punya rasa peduli yang tinggi. Dia selalu datang dengan ide-ide sosial yang tajam. Mulanya memang ide itu datang dari guru, tapi dia satu-satunya murid saya yang mampu merekam konsep saya dan mengeluarkannya sebagai kesimpulan. Saya bangga padanya. Saya tidak sabar melihat Rhein tumbuh remaja dan dewasa. Mudah-mudahan dia akan mengingat saya, seperti saya mengingatnya.
Frederik, 7 tahun, sangat tertarik dengan buku. Dia memilki rentang konsentrasi yang pendek, khususnya ketika sajian pembelajaran untuknya tidak menarik. Frederik masih seperti buku yang tertutup bagi saya. Dia belum mengizinkan saya membacanya tapi dia sudah membukakan halaman depan dan terakhir untuk saya. Frederik menyukai aktivitas fisik, membagikan segala sesuatu yang dianggapnya menarik, dan menolak setiap bentuk disiplin jika ia tidak memahaminya. Dilahirkan kembar membuat Frederik selalu bersentuhan dengan permasalahan 'diperlakukan sama' dan 'diperlakukan berbeda'. Frederik gampang bergaul dan tidak menikmati pembelajaran dalam ruangan untuk waktu yang lama. Tingkat kemandirian yang masih perlu diasah membuatnya seperti tidak bisa dikendalikan. Namun sebenarnya Frederik mampu melibatkan dirinya dalam perjanjian-perjanjian ketika perjanjian-perjanjian itu dilihatnya seperti permainan.
Joseph, Richard, Rhein, dan Frederik adalah nilai-nilai saya. Nilai-nilai itu membantu menjadi kaki dari meja 'belief' saya. Ketika cinta ada diantara kami, saya yakin saya akan mengukir kenangan indah bersama jiwa-jiwa muda itu. Terima kasih Tuhan atas pengertian ini.
Senin, 16 Juni 2008
The Mission

Konser kecil bertajuk 'The Mission' itu sudah selesai. Menjelang pukul 8 malam, 15 Juni 2008, pagelaran seni The Young Ambassador, Euphonic Option, Mandarin dan English Club, serta beberapa siswa SD dan SMP pilihan sontak riuh rendah dilanda kegembiraan. Mereka telah berhasil memberikan kebahagian yang luar biasa kepada Daisy Princesa dan Titus Chen. Saya juga menarik nafas lega.
Berada diantara keceriaan jiwa-jiwa muda itu membuat saya bersemangat. Saya memang pada awalnya meletakan hati saya dalam segala persiapan pementasan 'The Mission'. Meskipun secara teknis sahabat-sahabat saya yang lain bekerja mati-matian. Diantara waktu-waktu yang sangat mendesak --antara menyelesaikan tugas-tugas rutin dan mengatur rencana masa depan-- saya berusaha sekuat tenaga memberikan sumbangsih, meskipun dalam segala keterbatasan saya.
Ya, konser kecil itu berjudul 'Misi'. Kata yang sangat berharga dalam hidup saya. Hari-hari belakangan menyelipkan satu peringatan agar saya memahami misi saya. Misi sebagai seorang ibu, istri, dan guru. Peran yang bisa saya lakukan hanya dengan pertolongan Tuhan, karena 3 status itu luar biasa sulit...sungguh.....
Rabu, 04 Juni 2008
Pancasila? Yang Ada Lima Itu Ya?

Setelah 4 tahun menjadi guru kelas 1 Sekolah Dasar, saya dapat menyimpulkan lagu wajib yang menduduki peringkat tertinggi untuk dipilih murid-murid saya saat ulangan musik adalah 'Garuda Pancasila'. Entah mengapa. Mungkin karena lagu itu singkat, bersemangat, dan gampang diingat oleh anak-anak. Meskipun beberapa menyanyikannya dengan 'out of tune', saya tetap menikmati cara menyanyi dan berekspresi jiwa-jiwa muda itu. Dan sayapun terkenang oleh masa kecil saya.
Seingat saya 'Garuda Pancasila' adalah lagu penghantar sajian TVRI (Televisi Republik Indonesia) dari berita Nasional ke satu acara hiburan sekitar jam 7.30-an malam. Karena acara setelah berita biasanya acara yang menarik, saya selalu sabar menunggu lagu itu selesai dikumandangkan. Itu menjadi saat yang patut dikenang karena momen seperti itu tidak lagi ditemukan dengan ramuan acara televisi swasta yang melulu menyajikan hiburan ringan (--atau malahan pembodohon). Setelah berpuluh tahun, 'Garuda Pancasila' meninggalkan kenangan menyenangkan bagi jiwa saya yang menemukan damainya di dunia pendidikan.
Lalu setelah 1 abad Kebangkitan Nasional, tibalah Bangsa Indonesia pada tanggal 1 Juni 2008. Hari lahir Pancasila. Sang Proklamator Ir. Soekarno melabelkan 'Pancasila' untuk lima dasar yang diusulkannya pada rapat BPUPKI (Badan Persiapan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) 63 tahun lalu. Masih segar dalam ingatan saya kata-kata guru PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) semasa SMP bahwa ide lima dasar itu sudah menjadi ilham bagi Mpu Prapanca dan Mpu Tantular zaman Majapahit dulu, dalam kitab Negara Kertagama dan Sutasoma. Sejarah memang mempesona saya. Betapa seharusnya bangsa ini kaya dengan orang-orang cerdas berbudaya tinggi jika masing-masing orang memiliki akses terhadap kesempatan menuju pendidikan.
Saya sempat tersenyum kecut saat, sajian program berdurasi pendek di Metro TV hari Minggu lalu yang bertanya kepada beberapa orang tentang Pancasila. Lima dasar yang sudah ditetapkan sebagai dasar negara oleh 'Our Founding Fathers' tidak mendapatkan tempat pemahaman layak bagi sebagian orang. Dan di akhir program ada seorang ibu yang ditanyakan apakah ia tahu tentang Pancasila. Dengan malas-malasan dan enggan ia menjawab, "Pancasila? Yang ada 5 itu ya?". ------Gedubrakkkkkkk.
Pancasila :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
(Terdapat pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, Alinea 4)
Garuda Pancasila merupakan lambang negara Indonesia. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno. Sedangkan Pancasila itu sendiri merupakan dasar filosofi negara Indonesia. Kata Pancasila terdiri dari dua kata dari bahasa Sansekerta: pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas.
Sabtu, 24 Mei 2008
Saya Terpaksa Pamit
Saya menarik nafas panjang. Sulit menerima kenyataan bahwa ekspektasi saya tidak terpenuhi -padahal saya sudah sangat menyederhanakannya. Tapi seperti kata Sheila -sahabat saya yang seorang Psikolog, sulit untuk berkomunikasi sempurna saat kesenjangan cara berpikir tercipta antara dua manusia. Saya dan beberapa rekan lainnya tidak merasa superior atau berada di level tertinggi, keinginan kami sederhana saja yaitu : membuat tempat kami bercengkrama sehari-hari di saat-saat terakhir ini bereformasi menjadi tempat yang nyaman untuk mengaktualisasikan ide dan melakukan pelayanan kami pada pendidikan. Tapi apalah daya, kami justru masuk dalam partai oposisi yang seharusnya diberangus karena tidak punya etika dalam menyampaikan inspirasi dan aspirasi. Sayapun menangisi kekalahan saya.Adalah suatu kelegaan saat saya merasa tempat saya berkarya selama ini menunjukkan tanda-tanda perubahan. Adalah suatu kebahagiaan saat beberapa sahabat mendegungkan komitmen untuk memulai sesuatu yang baru. Adalah suatu ikatan berbentuk kebersamaan saat hari baru dimulai dengan membicarakan ide-ide segar. Tapi adalah suatu kesedihan saya yang mendalam karena ternyata itu hanyalah angan-angan saya. Sempat saya merasa sejahtera saat melihat tunas perubahan akan muncul disaat saya akan mengeksekusi keputusan saya berjalan ke tempat lain. Namun kegamangan itu seketika menghampiri ketika saya disadarkan bahwa tidak semua orang mampu dan mau berpikir positif saat berada dalam situasi terburuk. Saya kok tiba-tiba merasa diposisikan sebagai orang yang mendorong rusa yang tersangkut masuk ke dalam jurang.
Ya...proses ini akan sangat berat. Makilah saya jika saya hengkang dari semuanya ini dengan segera. Bukan karena kemauan saya, namun karena waktu tidak berpihak kepada saya. Semoga teman-teman seperjuangan saya masih memiliki peluru untuk menghadang keapatisan dan singa yang mengaumkan ketidakpercayaan. Saya pamit. Dengan hati yang belum lega, saya terpaksa pamit.
Sabtu, 17 Mei 2008
Michael and His SoulMath
Michael Samuel Honges (ada nama tengah yang kurang agaknya --Adrian mungkin) dulunya adalah murid saya. Alumni Sekolah Menengah Pertama Makarios. Kami bertemu bukan sebagai guru dan murid awalnya. Bagi saya Mike hanyalah seorang anak remaja iseng yang seharusnya bisa manja karena dia anak tunggal. Saya bergaul akrab dengan mamanya dan aneh rasanya saat pertama kali berada di dalam kelas dan menjadi fasilitatornya berbahasa Inggris. Saya lebih suka dia menyebut saya 'kakak'. Setelah 2 tahun membiarkan dia memaknai kehadiran saya sebagai guru akhirnya saya mengultimatum dia untuk menyebut saya 'kakak' kembali.Bukan. Bukan itu yang saya ingin bahas. Bukan sejarah seorang murid, tapi kekaguman saya pada apresiasinya terhadap yang saya sebut 'pencerahan'. Saya suka menulis, dan saya selalu memotivasi murid-murid saya untuk menulis. Sayangnya saya belum bisa profesional soal itu. Akhir-akhir ini saya sering berkunjung ke blognya www.michaelsamuel.blogspot.com, hanya sekedar memantau apa yang ada di benak lulusan terbaik angkatan pertama SMP Makarios ini. Dan dia membuat saya bangga dengan tulisan-tulisannya.
Apresiasi, pencarian makna hidup, dunia kehidupan dari benaknya yang masih hijau, dan perenungannya tentang beberapa hal membuat saya merasa bahwa ia sedang bergerak ke arah pencerahan.
Dia menulis tentang seseorang. Laki-laki yang kadang membingungkan saya dengan pendekatannya yang konvensional dan urakan. Pernah saya berada dalam kelasnya. Dan sepanjang waktu dia hanya mengerutu dan mengeluh tentang kelakuan murid-murid. Apa yang dirasakan oleh anak-anak itu saat selalu menobatkannya sebagai guru favorit? Apakah karena belasan toblerone yang dibagikan gratis? (seperti yang Mike tulis di blognya) Saya tidak bisa menerima prosesnya. Tapi impresi yang diberikan sosok ini luar biasa. Saya hanya bisa menebak. Mungkin karena dedikasinya yang tinggi dibalik ungkapan-ungkapannya yang kadang memerahkan telinga. Mungkin karena baginya murid-murid adalah cerminan pencapaian pribadinya. Mungkin karena hidupnya memang digariskan hanya untuk mengalokasi waktunya menjadi bagian dari ilmu dengan deretan angka. Mungkin karena ia senantiasa menemukan cinta sejatinya pada keberhasilan peserta didiknya. Dan semuanya itu menghasilkan 'output' yang sempurna. Saya yakin ada banyak benih kesan yang sama terhadapnya di luar sana. Bahkan itu berproses pada diri Regina*.
Saya ingin mengangkat topi untuknya hari ini. Aku kutipan yang indah untuk semua muridnya. "Seorang guru sejati adalah seorang yang membangun jembatan menuju masa depan yang yang lebih baik. Membiarkan setiap murid berjalan menyebranginya. Dan pada akhirnya, dia membiarkan dirinya runtuh."
Michael, he is your SoulMath....
Note :
* Regina --teman Michael di SMP Makarios, Class of 2006.
Rabu, 23 April 2008
It's a Break Time


Saya selalu percaya bahwa hidup adalah misi. Sebelumnya saya percaya bahwa hidup adalah untuk menghasilkan karya. Dan saat saya merasa dua keyakinan itu semakin berjalan beriringan, saya menjadi kuatir karena waktu-waktu saya sepertinya semakin singkat dan terbatas untuk menjalankan misi dan menghasilkan karya.Saya telah memutuskan untuk mengakhiri karir saya sekarang demi suatu pembaharuan. Bukan terhadap profesi tetapi terhadap situasi yang saya rasa mulai konvensional dan tidak progresif. Ada satu kutipan yang mewejangkan saya untuk tidak mengharapkan lebih pada sesuatu yang baru (meskipun saya sangat ingin begitu) dan tidak menyesali sesuatu yang telah terjadi. Saya berharap penyesalan tidak akan ada saat kita yakin kebijaksanaan Tuhan telah menuntun kita untuk melakukan sesuatu. Dan jika ada yang salah dalam suatu keputusan, saya cenderung melihatnya sebagai ajakan Tuhan untuk membuat kita lebih berserah dan mendengar suaraNya. Mudah-mudahan saja dalam dua bulan ke depan saya akan sangat berterima kasih atas situasi yang diberikan kepada saya saat ini. Meskipun saat ini helaan nafas menemani saya untuk sekedar mengingatkan bahwa waktu-waktu di depan tidak akan berjalan dengan mudah.
Saya ingin memaknai waktu ini sebagai bentuk lain halte dalam perjalanan hidup saya. Untuk sejenak menundukkan kepala dan tegak lagi dengan satu kekuatan baru.
Dua bulan di depan. Hanya dua bulan. Dan biarlah Tuhan membentangkan kanvas perjalanan saya yang lain dalam menjalankan misi dan menghasilkan karya untuk mewartakan semua tindakan luar biasaNya dalam kehidupan saya.
Jumat, 11 April 2008
The Chonicle of Keyren



Fortis Angela bermakna malaikat yang kuat. Suatu waktu di sekitar Maret 2003 saya pernah membuat puisi dengan catatan kaki bertajuk 'The Chonicle of Keyren' http://maria-justasimplethought.blogspot.com/2007/08/kepada-keyren.html bercerita tentang wanita muda (yang saya sebut kesatria). Mengapa dia istimewa? Karena ia terlahir di tanggal yang sama dengan saya, kami memilki kampung halaman yang berdekatan dan di satu ruang dan waktu kami bersama-sama. Mengapa saya terusik untuk menulis tentangnya? Karena saat ini jiwa saya mengingat kenangannya. Sudah lima tahun berselang dari masa-masa itu dan dalam ruangan-ruangan waktu di antaranya peristiwa demi peristiwa menyatukan ataupun memisahkan.Life is full of ups and downs --kebanyakan downs-nya barangkali. Tapi simaklah! Selalu ada pintu lain yang terbuka saat satu pintu tertutup dan selalu akan ada jendela yang terbuka saat semua pintu tertutup. Kehidupan akan menjadi semakin berat karena dunia ini bergerak ke arah kebinasaan. Tapi selama pengharapan akan kekekalan di dunia yang baru menjadi visi setiap orang, yakinlah penghiburan dan pertolongan sejati akan selalu datang tepat pada waktunya.
Saya sedang ingin mengapreasiasi kembali kenangan 'The Chonicle of Keyren' dan resensi pengarang yang saya buat hari ini membuat saya ingin memiliki kasih Tuhan yang kuat dalam kelemahan saya sebagai manusia.
Karunia Pengampunan

Mengampuni itu adalah sebuah karunia. Dan diperlukan sebuah kuasa untuk mengampuni diri sendiri. Saya tidak tahu apakah adayang setuju tapi dalam subjektivitas, saya merasakan lebih sulit mengampuni diri sendiri daripada orang lain. Aneh bukan?
Trauma karena kesalahan menimbulkan kerugian yang hakiki bagi orang lain dan kesalahan yang saya ciptakan untuk memenuhi keinginan sendiri itu membuat saya menghabiskan tahun-tahun terakhir dengan rasa resah. Secara tidak sadar saya berniat menghukum diri sendiri dengan tidak memaafkan kesalahan untuk membayar setimpal perbuatan saya. Secara tidak sadar saya membangun menara kesombongan untuk menjadikan perasaan itu berhala dalam hati saya.
Sampai pada satu kali saya ditegur dengan ungkapan bahwa mengampuni itu adalah sebuah karunia. Dan diperlukan suatu kuasa untuk mengampuni diri sendiri. Betapa sombongnya saya bila saya tetap merasa bersalah saat Sang Pembebas itu telah mengampuni saya dan betapa tidak tahu malunya saya saat menyimpan baik-baik trauma rasa sakit itu di saat dengan kasih Dia memberikan hidup baru kepada saya.
Jika dulu setiap 10 April saya selalu meyesali perbuatan yang membuat salah satu sahabat terbaik saya kecewa, tahun ini saya akan mencoba mengenangnya sebagai hari dimana saya memaknai sebuah pengampunan.
Happy belated Birthday Emilliana....
Senin, 17 Maret 2008
Sedang Apatis
Ingatkah engkau dengan ritual upacara bendera di hari Senin pagi? Saat sang saka merah putih dikibarkan diiringi dengan lagu Indonesia Raya? Mungkin engkau lupa karena rutinitas itu sudah berpuluh tahun berlalu. Tapi tidak bagi saya.Pagi ini says tergesa ke sekolah karena yakin akan terlambat. Hari ini Senin 17 Maret 2008, saya seorang guru sekarang dan upacara bendera menjadi tradisi rutin sekolah-sekolah yang menyakini upacara bendera adalah bagian pembelajaran akan nasionalisme. Saya baru menyetujui saat saya tidak lagi menjadi peserta upacara namun diwajibkan berdiri 'berpanas ria' sebagai pembina upacara.
Tapi saya terlambat. Ide nasionalisme itu menjadi garing saat saya berdiri 'behind the bars' sebagai pesakitan bersama siswa-siswa lain yang terlambat. Tapi berada diantara mereka adalah bentuk lain idealisme saya. Saya tidak bangga menjadi terlambat dan tidak sedang berunjuk rasa. Saya bisa saja menyelinap di balik pagar dan bersembunyi menyibukkan diri atau mencari alasan masuk akal mengapa saya tidak mengikuti upacara. Tapi itu malahan membuat saya menjadi kerdil. Saya merasakan berada dalam humanisme melakukan kesalahan. Bukan untuk menjunjung tinggi ungkapan 'nobody is perfect' tapi untuk memaknai betapa mengerikannya menjadi apatis. Seharusnya saya malu karena terlambat. Seorang guru yang terlambat menjadi santapan kritikan topik 'guru seharusnya menjadi teladan'. Tapi saya tidak perduli. Dan ketidakpedulian itu mengerikan.
Saya selalu percaya bahwa berproses adalah yang terutama. Mudah-mudahan saya akan segera menyelesaikan permasalahan saya mengenai apatis ini.
Doing right by not doing wrong is not doing right, isn't it?
Rabu, 06 Februari 2008
Sebelum Epilog

Setelah perenungan sekian lama, saya memutuskan untuk melepaskan pekerjaan yang saya geluti selama ini. Bukan karena bosan, namun karena pencarian saya pada hakekat menjadi guru sejati seharusnya tidak berhenti di sini.
Sekolah tempat saya mengabdi selama ini telah memberi saya kesempatan untuk menemukan cinta saya. Cinta pada Rafael Ricky Gunawan yang mengajarkan saya betapa tidak nyamannya berada dalam keterbatasan kesulitan untuk mengekang diri. Betapa saya sangat bahagia setelah empat tahun berlalu, Ricky selalu datang menikmati kebersamaan kami saat Wednesday Chapel duduk bersama-sama. Kami pernah merasakan emosi yang kuat saat kami berusaha menempatkan hubungan guru dan murid dalam keselarasan. Betapa saya mencintai keinginannya untuk terus bercerita tentang hal-hal yang terjadi dalam hidupnya.
Sekolah ini juga memperkenalkan saya pada Joseph Adrian, seorang pra-remaja dengan berjuta kejutan dalam dunianya yang unik. Saya menemuinya setiap hari, berbicara tentang dimensi lain padanya. Tentang global warming, pecahan, adverb, sinetron candy dan mentari, spiderman, dylan, pacaran, delon, dan letto serta nidji. Usianya 11 tahun, tahun ini. Dan saya sudah mulai melihat keresahannya untuk tidak terlihat bersama-sama saya didekat teman-temannya. Saya bertanggung jawab atas setiap pembelajaran dan filter terhadap tutur katanya. Dan dilain pihak saya menyerap hampir semua gaya bicaranya. Saya merasa dia adalah buku paling menarik yang pernah saya baca.
Kemudian saya bertemu dengan Richard dan Muhammad Rhein Rifky. Dua tanggung jawab yang sedang saya nikmati. Mereka bertengkar hari ini. Dua-duanya menangis. Kadang saya menyesal sudah terlalu keras pada mereka, dan terharu saat setelah pertengkaran yang hebat mereka bergandengan tangan dan saling meminta maaf. Mereka dua cinta saya yang sedang tumbuh. Saya mengasihi dua tunas muda ini.
Juga Fredrick yang lugu dan butuh waktu untuk berada dalam keteraturan. Sifat egois khas anak-anaknya membuatnya sering menarik diri terhadap pembelajaran. Tapi cinta dan kesabaran selalu menjadi rahasia untuk menumbuhkan cinta saya. Saya sedang belajar memahaminya, memahami kecenderungannya untuk menolak bantuan dan pesimis terhadap usaha. Dunia Frederick segera akan menjadi dunia saya, dan kami yakin kami akan menemukan jalan bagi kesepakatan untuk menumbuhkan minatnya mencintai belajar.
Mereka semua menjadi kenangan terindah saya. Tapi keputusan meninggalkan sekolah bukanlah akhir dari rasa cinta saya terhadap pendidikan. Keinginan terbesar saya untuk menjadi guru yang menginspirasi membuat saya terus menjaga komitmen mereka untuk terus belajar, menjadi laki-laki kuat dengan kasih yang melimpah.
Saya akan segera berkemas-kemas. Dan membawa cerita saya yang masih tidak terselesaikan bersama Jesinta dan Cynthia Dewi, dua perempuan sangat muda yang membuat saya berpikir....
Selasa, 05 Februari 2008
Misi Soeharto

Sudah agak terlambat untuk mengomentari kematian Sang Jendral besar Soeharto yang wafat 27 Januari 2008 lalu. Banjir Jakarta menjadi berita yang belum dingin saat ini. Namun entah kenapa, seperti layaknya proses perenungan yang biasa terjadi sesaat setelah sesuatu selesai, saya mulai memikirkan hakekat peristiwa itu.
Soeharto hanya seorang biasa dengan kesempatan menjadi orang yang luar biasa. Siapa saya sebenarnya untuk mengenal beliau dengan dekat, namun kok kayaknya tidak ada perasaan benci yang meluap-luap seperti yang dirasakan orang-orang pada bapak yang katanya berhasil mendapatkan predikat sebagai Bapak Pembangunan (membangun menara korupsi?) itu. Padahal saya ada di sana saat mahasiswa-mahasiswa Yogya berduyun-duyun berjalan dari kampus-kampus menuju alun-alun untuk bertemu Sultan saat zaman yang namanya reformasi itu dan seorang yang setiap malam tidur bersama saya adalah salah seorang aktivis yang ikut menyerukan supaya Soeharto 'lengser keprabon'. Mungkin karena senyumnya itu. Hm...banyak yang tidak setuju sepertinya.
Saya bukanlah pengamat politik pun pengamat sosial budaya dan masyarakat. Saya hanya seorang yang sukanya mencoba mencari tahu mengapa seseorang berbuat sesuatu. Walaupun akhirnya saya merasa banyak orang sepertinya tidak pernah berusaha cukup keras untuk mencapai kesempurnaan hakikatnya. Soeharto mungkin salah satu diantaranya.
Saat membaca imel-imel kiriman teman tentang nostalgia zaman Soeharto, semua yang berbau orde baru, tvri beserta program-programnya, klompencapir, dll, saya kok ikut-ikutan kangen ya. Masa lalu itu rasanya kok indah. Padahal saat menjalaninya tidak bahagia. Hmm..mungkin itu jawabannya orang sering hidup di masa lalu.
Waktu ada yang kasih perbandingan pemakaman Soekarno dan Soeharto yang jauh banget bedanya saya sih tidak bisa kasih komentar apa-apa. Wong, masanya berbeda. Kalau mau dikritisi ya itulah politik. Semua bisa disyahkan. Saya males kalau bicara politik.
Intinya, seperti kematian-kematian lain, kematian (wafatnya) Sang Jendral ini berarti sama. Bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Dan jika sebelumnya saya meyakini, seyakin-yakinnya, bahwa hidup itu adalah misi, saya berharap dan semoga saja Pak Harto sudah menyelesaikan misinya.
(Bapak saya juga bernama Soeharto - tulisan ini saya persembahkan untuk beliau. Papa, saya sangat mencintaimu.)
Kamis, 29 November 2007
Nilai Minus
Saya butuh Kuasa itu sekarang. Butuh Kekuatan itu sekarang, untuk mengubahkan kedegilan hati saya yang mungkin sudah mulai usang. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya tidak berhak merefleksikan tindakan menyenangkan orang lain dengan tindakan yang sama. Saya tidak berhak memantulkan kembali pikiran dan prilaku negatif agar kegundahan saya juga dirasakan orang lain. Hak saya adalah menerimanya sebagai bagian dari kehidupan manusia yang sudah tercemar oleh ketidaksempurnaan. Dan jika jiwa saya tidak lagi kerdil saya dapat mengubah setiap aura negatif itu menjadi batu bata yang akan terus saya kumpulkan. Untuk membangun satu rumah pada akhirnya. Bagian saya adalah terus belajar betapa kegundahan atau kekuatiran tidak akan membawa saya kemana-mana. Bahwa sesuatu yang besar itu tidak terletak dari meralat setiap masukan negatif. Bahwa kebijaksanaan itu terletak pada keteladanan yang diberikan Sang Guru Agung. Bahwa sudah seharusnyalah saya menenangkan diri dan membiarkan keping-keping puzzle terpecah itu melengkapi dirinya sendiri. Bahwa yang harus saya lakukan adalah bersyukur karena setiap saat saya diingatkan untuk menyadari betapa saya tidak berarti. Untuk itu mengapa harus merasa terusik? ;))


